Monthly Archives: August 2007

Cerita Implementasi ERP System

Perusahaan kami telah mengimplementasikan SAP selama 2 Th.
Sebenarnya dalam mengimplementasikan sebuah ERP ( baik SAP, BAAN,
Symix, Mincom dll ) tidak ada yang namanya "yang mana telur dan yang
mana ayam". Kenapa saya bilang begitu ???? Sudah disepakati secara
UMUM, Laporan keuangan merupakan barometer kegiatan usaha. Mau tidak
mau , setuju tidak setuju bagaimanapun kita harus akui bahwa
pembuatan Laporan Keuangan terletak dibagian Financial Accounting.

Nah yang menjadi pertanyaan,
apabila si akuntan ngotot minta FI/CO ( modul Accounting di SAP )
diimplementasikan Accounting terlebih dahulu, atau
apabila si insinyur produksi ngotot minta Prod Planning ( modul
produksi di SAP) diimplementasikan untuk produksi terlebih dahulu,
atau apabila si Mgr PPC/Purchasing ngotot minta Material Mgmt ( salah
satu modul di SAP) diimplementasikan untuk management inventory
terlebih dahulu, atau apabila si Salesman ngotot minta Sales
Distribution ( modul produksi di SAP)
diimplementasikan marketing terlebih dahulu, dan lain sebagainya ….
Apakah diperlukan urutan untuk mengimplementasikan modul-2 tsb
diatas??
Jawabannya tidak perlu….
kita dapat mengimplentasikan ERP dengan beberapa modul sekaligus.
Yang terpenting membentuk suatu siklus yang muaranya menjadi laporan
keuangan.Kalau tidak bisa membuat siklus ( kasarnya setiap modul
bediri sendiri dan tidak conect ke modul lain) system ERP yang mahal
akan mubazir diterapkan alias buang – buang duit saja.

Contoh sederhana di system SAP u/manuf :

Modul SD
Salesman terima PO dari Customer dan menginput PO tersebut di
sebagai Sales
Order yang nantinya berfungsi sbg
1. Permintaan Produksi ke PPIC ( bagi perusahaan manufacture)
2. sebagai dasar pembuatan dokumen-2 untuk intern ( surat jalan dll)
maupun extern ( Invoice, F.Pajak dll )

Modul MM
1. Berdasarkan SO dari marketing, PPIC merencanakan
produksi,melakukan penyediaan material untuk produksi membuat PO (
prod Order) ke Pabrik sebagai perintah produksi.
2. Agar material u/prod terjamin cukup atau tidak berlebihan, PPIC
dapat melihat ketersediaan Inventory digudang. Apabila material
belum ada PPIC akan meminta bagian Purchasing untuk membeli barang.
3. Selanjutnya Purchasing membuat PO ( Purchasing Order) ke Vendor
dan diterima Oleh Gudang.Setelah barang diterima oleh gudang,
Purchasing akan mencatat Invoice / faktur dari Vendor sebagai Utang.
4. Selanjutnya berdasarkan Prod Order, Gudang akan mengirim barang
ke bagian Produksi.

Modul PP
1. Berdasarkan Prod Order, melakukan Produksi . Disini semua
material dan tenaga Kerja dipakai dicatat.
2. Setelah selesai dikirim ke gudang

Modul FI/CO
1.Memverifikasi t serta meng automatic counting Cost product
2. Melakukan pencatatan Pembayaran Utang dan Penerimaan Piutang
3. Memverifikasi laporan keuangan yang timbul dari transaksi tsb
diats ( jurnal terjadi secara Automatic)

PO Cust—> Permintaan Barang o/Marketing ke PPIC–> Permintaan
Produksi oleh PPIC ke Pabrik —-> Produksi oleh Pabrik —->
Pembuatan dan Penagihan Invoice ke Customer oleh Acc/Fin —->
Lapoaran Keuangan

paling tidak modul diatas dapat diimplementasikan serentak.

Mohon maaf tulisannya kepajangan. Selanjutnya dilain waktu kita akan
sharing bagaimana pelaksanaan implementasi SAP di perusahaan saya.
Mulai dari pemilihan sofware sampai penanganan pasca golive.

Salam ERP
Team Help Desk

Cerita Implementasi ERP System

Perusahaan kami telah mengimplementasikan SAP selama 2 Th.
Sebenarnya dalam mengimplementasikan sebuah ERP ( baik SAP, BAAN,
Symix, Mincom dll ) tidak ada yang namanya "yang mana telur dan yang
mana ayam". Kenapa saya bilang begitu ???? Sudah disepakati secara
UMUM, Laporan keuangan merupakan barometer kegiatan usaha. Mau tidak
mau , setuju tidak setuju bagaimanapun kita harus akui bahwa
pembuatan Laporan Keuangan terletak dibagian Financial Accounting.

Nah yang menjadi pertanyaan,
apabila si akuntan ngotot minta FI/CO ( modul Accounting di SAP )
diimplementasikan Accounting terlebih dahulu, atau
apabila si insinyur produksi ngotot minta Prod Planning ( modul
produksi di SAP) diimplementasikan untuk produksi terlebih dahulu,
atau apabila si Mgr PPC/Purchasing ngotot minta Material Mgmt ( salah
satu modul di SAP) diimplementasikan untuk management inventory
terlebih dahulu, atau apabila si Salesman ngotot minta Sales
Distribution ( modul produksi di SAP)
diimplementasikan marketing terlebih dahulu, dan lain sebagainya ….
Apakah diperlukan urutan untuk mengimplementasikan modul-2 tsb
diatas??
Jawabannya tidak perlu….
kita dapat mengimplentasikan ERP dengan beberapa modul sekaligus.
Yang terpenting membentuk suatu siklus yang muaranya menjadi laporan
keuangan.Kalau tidak bisa membuat siklus ( kasarnya setiap modul
bediri sendiri dan tidak conect ke modul lain) system ERP yang mahal
akan mubazir diterapkan alias buang – buang duit saja.

Contoh sederhana di system SAP u/manuf :

Modul SD
Salesman terima PO dari Customer dan menginput PO tersebut di
sebagai Sales
Order yang nantinya berfungsi sbg
1. Permintaan Produksi ke PPIC ( bagi perusahaan manufacture)
2. sebagai dasar pembuatan dokumen-2 untuk intern ( surat jalan dll)
maupun extern ( Invoice, F.Pajak dll )

Modul MM
1. Berdasarkan SO dari marketing, PPIC merencanakan
produksi,melakukan penyediaan material untuk produksi membuat PO (
prod Order) ke Pabrik sebagai perintah produksi.
2. Agar material u/prod terjamin cukup atau tidak berlebihan, PPIC
dapat melihat ketersediaan Inventory digudang. Apabila material
belum ada PPIC akan meminta bagian Purchasing untuk membeli barang.
3. Selanjutnya Purchasing membuat PO ( Purchasing Order) ke Vendor
dan diterima Oleh Gudang.Setelah barang diterima oleh gudang,
Purchasing akan mencatat Invoice / faktur dari Vendor sebagai Utang.
4. Selanjutnya berdasarkan Prod Order, Gudang akan mengirim barang
ke bagian Produksi.

Modul PP
1. Berdasarkan Prod Order, melakukan Produksi . Disini semua
material dan tenaga Kerja dipakai dicatat.
2. Setelah selesai dikirim ke gudang

Modul FI/CO
1.Memverifikasi t serta meng automatic counting Cost product
2. Melakukan pencatatan Pembayaran Utang dan Penerimaan Piutang
3. Memverifikasi laporan keuangan yang timbul dari transaksi tsb
diats ( jurnal terjadi secara Automatic)

PO Cust—> Permintaan Barang o/Marketing ke PPIC–> Permintaan
Produksi oleh PPIC ke Pabrik —-> Produksi oleh Pabrik —->
Pembuatan dan Penagihan Invoice ke Customer oleh Acc/Fin —->
Lapoaran Keuangan

paling tidak modul diatas dapat diimplementasikan serentak.

Mohon maaf tulisannya kepajangan. Selanjutnya dilain waktu kita akan
sharing bagaimana pelaksanaan implementasi SAP di perusahaan saya.
Mulai dari pemilihan sofware sampai penanganan pasca golive.

Salam ERP
Team Help Desk

Akuntansi Keuangan dan Akuntan Biaya

Akuntansi Keuangan dan Akuntan Biaya dari sisi praktikal. Kebetulan
saya seorang praktisi Cost Accounting, dan juga pernah membawahi
bagian general accounting & budgeting.

1. dalam Akuntansi, Laporan Keuangan yang pokok itu terdiri atas :
Neraca (balansheet), Laporan Rugi/laba (P & L), dan Laporan Arus Kas (cash
flows). Nah dalam laporan Rugi/laba tercantum item-item sbb berikut
(sebagaimana tercantum dalam SAK/sistem akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia-IAI) :

Revenue/Sales (pejualan usaha pokok perusahaan)    1,000,000.00
Cost of Goods Sold (COGS-harga pokok penjualan)    810,000.00
Beginning Balance 500,000.00
Cost of Goods Manufacture (COGM) 610,000.00
Direct Material    200,000.00
Direct Labor 100,000.00
Factory Overhead  110,000.00
Utility electric 100,000.00
Utility water 10,000.00
Repari/Maintenance 10,000.00
Depreciation    20,000.00
Indirect Labor    50,000.00
dll    10,000.00
Ending Balance    300,000.00
Gross Profit    190,000.00
Operting Expense 90,000.00
Salaries – HRGA, Fin/Acct, dll.    50,000.00
Others Income (Gain/loss bukan usaha pokok) 40,000.00
Net Profit 90,000.00

Jika dilihat dari report di atas, (dari COGS s/d Gross Profit),
yang merupakan nilai penghitungan cost per product, maka bagian
inilah yang menjadi wilayah akuntansi biaya. sedangkan lainnya
merupakan wilayah akuntansi keuangan. Nilai COGS dan Gross profit
(yang terdiri atas biaya tetap dan variable) yang merupakan wilayah
akuntansi biaya akan menjadi acuan bagi manajemen untuk pengambilan
keputusan, apakah akan meningkatkan qty produksi (dengan efisiensi
atau investasi baru), membeli atau memproduksi sendiri, mengurangi
produksi (mungkin karena over stock), dan lain sebagainya.
Sedangkan nilai Net profit akan dicantumkan dalam Neraca sebagai
bagian penambah modal/equity (laba ditahan/retained earning), dan
menjadi informasi bagi pemegang saham, kantor pajak (PPH badan),
calon investor, dan lain-lain. Ini adalah bagian dari akuntansi
keuangan. Sementara itu laporan arus kas untuk mengetahui seberapa
besar uang cash yang beredar di perusahaan baik itu dari penerimaan
pembayaran dari customer, bunga, pembayaran kepada supplier,
financing, dan lain-lain. (ini juga biasanya
menjadi bagian akuntansi keuangan). jadi dari sini dapat dinilai
tingkatlikuiditas perusahaan.
Jadi akuntansi keuangan berkaitan dengan pelaporan keuangan,
sedangkan akuntansi biaya berkaitan dengan penghitungan harga pokok
produksi/penjualan untuk penilaian laba kotor dan sebagai alat bagi
manajemen untuk pengambilan keputusan berikutnya.

salam hangat dari seorang sahabat,
Agus Hendri – Bogor

Akuntansi Keuangan dan Akuntan Biaya

Akuntansi Keuangan dan Akuntan Biaya dari sisi praktikal. Kebetulan
saya seorang praktisi Cost Accounting, dan juga pernah membawahi
bagian general accounting & budgeting.

1. dalam Akuntansi, Laporan Keuangan yang pokok itu terdiri atas :
Neraca (balansheet), Laporan Rugi/laba (P & L), dan Laporan Arus Kas (cash
flows). Nah dalam laporan Rugi/laba tercantum item-item sbb berikut
(sebagaimana tercantum dalam SAK/sistem akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia-IAI) :

Revenue/Sales (pejualan usaha pokok perusahaan)    1,000,000.00
Cost of Goods Sold (COGS-harga pokok penjualan)    810,000.00
Beginning Balance 500,000.00
Cost of Goods Manufacture (COGM) 610,000.00
Direct Material    200,000.00
Direct Labor 100,000.00
Factory Overhead  110,000.00
Utility electric 100,000.00
Utility water 10,000.00
Repari/Maintenance 10,000.00
Depreciation    20,000.00
Indirect Labor    50,000.00
dll    10,000.00
Ending Balance    300,000.00
Gross Profit    190,000.00
Operting Expense 90,000.00
Salaries – HRGA, Fin/Acct, dll.    50,000.00
Others Income (Gain/loss bukan usaha pokok) 40,000.00
Net Profit 90,000.00

Jika dilihat dari report di atas, (dari COGS s/d Gross Profit),
yang merupakan nilai penghitungan cost per product, maka bagian
inilah yang menjadi wilayah akuntansi biaya. sedangkan lainnya
merupakan wilayah akuntansi keuangan. Nilai COGS dan Gross profit
(yang terdiri atas biaya tetap dan variable) yang merupakan wilayah
akuntansi biaya akan menjadi acuan bagi manajemen untuk pengambilan
keputusan, apakah akan meningkatkan qty produksi (dengan efisiensi
atau investasi baru), membeli atau memproduksi sendiri, mengurangi
produksi (mungkin karena over stock), dan lain sebagainya.
Sedangkan nilai Net profit akan dicantumkan dalam Neraca sebagai
bagian penambah modal/equity (laba ditahan/retained earning), dan
menjadi informasi bagi pemegang saham, kantor pajak (PPH badan),
calon investor, dan lain-lain. Ini adalah bagian dari akuntansi
keuangan. Sementara itu laporan arus kas untuk mengetahui seberapa
besar uang cash yang beredar di perusahaan baik itu dari penerimaan
pembayaran dari customer, bunga, pembayaran kepada supplier,
financing, dan lain-lain. (ini juga biasanya
menjadi bagian akuntansi keuangan). jadi dari sini dapat dinilai
tingkatlikuiditas perusahaan.
Jadi akuntansi keuangan berkaitan dengan pelaporan keuangan,
sedangkan akuntansi biaya berkaitan dengan penghitungan harga pokok
produksi/penjualan untuk penilaian laba kotor dan sebagai alat bagi
manajemen untuk pengambilan keputusan berikutnya.

salam hangat dari seorang sahabat,
Agus Hendri – Bogor