Monthly Archives: August 2007

Peserta yang lulus pada Training SAP ABAP BC430 Angkatan 1

Peserta yang lulus pada Training SAP ABAP BC430 Angkatan 1 sbb:

1. Irman Oktavian (Arizona, USA) (37)
2. Wadiyo (Sidoarjo) (24)
3. Arif H. (Jakarta) (50)
4. Mariah Hanisah (Jakarta) (47)
5. Titik Parwati Hesti (Gresik) (14)
6. Imam Daru Nurwijayanto (Jakarta) (2)
7. Abdul Mukid (Lampung) (42)
8. Supandi Daulay (Depok) (27)
9. Nugroho Dwi Saputro (Australia) (46)
10. Robiton (Karawang) (4)
11. Frederik (Makasar) (43)
12. Andrew Tarigan (Sidoarjo) (38)
13. Helmy Nurhayati (Bandung) (40)
14. Rivai Wardhani (Bandung) (16)
15. Ronal Yulyanto (Jakarta) (25)
16. Fiza Sharif (Jakarta) (44)
17. Sofyan Marhadi (Balikpapan) (25)
18. Erlina Taufiek (Jakarta) (30)
19. Femin Khristiana (Surabaya) (28)
20. Embot Daryono (Jakarta) (26)
21. Firman Indra Buana (Jakarta) (39)
22. Bambang B. Santoso (Surabaya) (20)
23. Saeful Anwar (Bekasi) (1)
24. Adhiguna (Batam) (17)
25. Dicky Indrolaksono (Tangerang) (48)
26. John Friadi (Batam) (23)
27. Fitria Agustina (Jakarta) (00)

Kami para instruktur dan segenap pengurus Komtek mengucapkan selamat
bagi yang berhasil lulus training ABAP BC430 yang juga sebelumnya
lulus training ABAP BC400. Semoga training ini menjadi bekal untuk
masuk ke dunia SAP.

Salam hormat,
M.Syarwani
http://www.ERPweaver.com
http://belajar-abap.blogspot.com/

Peserta yang lulus pada Training SAP ABAP BC430 Angkatan 1

Peserta yang lulus pada Training SAP ABAP BC430 Angkatan 1 sbb:

1. Irman Oktavian (Arizona, USA) (37)
2. Wadiyo (Sidoarjo) (24)
3. Arif H. (Jakarta) (50)
4. Mariah Hanisah (Jakarta) (47)
5. Titik Parwati Hesti (Gresik) (14)
6. Imam Daru Nurwijayanto (Jakarta) (2)
7. Abdul Mukid (Lampung) (42)
8. Supandi Daulay (Depok) (27)
9. Nugroho Dwi Saputro (Australia) (46)
10. Robiton (Karawang) (4)
11. Frederik (Makasar) (43)
12. Andrew Tarigan (Sidoarjo) (38)
13. Helmy Nurhayati (Bandung) (40)
14. Rivai Wardhani (Bandung) (16)
15. Ronal Yulyanto (Jakarta) (25)
16. Fiza Sharif (Jakarta) (44)
17. Sofyan Marhadi (Balikpapan) (25)
18. Erlina Taufiek (Jakarta) (30)
19. Femin Khristiana (Surabaya) (28)
20. Embot Daryono (Jakarta) (26)
21. Firman Indra Buana (Jakarta) (39)
22. Bambang B. Santoso (Surabaya) (20)
23. Saeful Anwar (Bekasi) (1)
24. Adhiguna (Batam) (17)
25. Dicky Indrolaksono (Tangerang) (48)
26. John Friadi (Batam) (23)
27. Fitria Agustina (Jakarta) (00)

Kami para instruktur dan segenap pengurus Komtek mengucapkan selamat
bagi yang berhasil lulus training ABAP BC430 yang juga sebelumnya
lulus training ABAP BC400. Semoga training ini menjadi bekal untuk
masuk ke dunia SAP.

Salam hormat,
M.Syarwani
http://www.ERPweaver.com
http://belajar-abap.blogspot.com/

Standard vs Actual Costing

Standard vs Actual Costing

Standard Cost dihitung berdasarkan nilai budget dan berbagai elemen yang
berupa asumsi-asumsi seperti
* Pemakaian material menurut standar BOM
* Harga material yang tetap
* Kapasitas produksi normal
* Cycle Time/Time consumed standard
* Labor Cost yang sesuai budget
* FOH yang sesuai budget
* etc
Dengan kata lain Standard Cost adalah biaya yang semestinya (telah
dianggarkan/diperhitungkan) untuk membuat suatu produk. Standard Cost dapat
diperoleh sebelum aktual produksi terjadi, sedang berjalan tidak perlu
menunggu sampai akhir bulan setelah semua cost dikumpulkan dan dihitung.
Biasanya digunakan untuk pricing awal dan diupdate setiap saat diperlukan
(variance yang terjadi cukup besar). Budget vs Aktual = Variance
Keunggulan Standard Cost :
* Relatif lebih mudah didapat karena tidak memerlukan data lapangan
yang berfluktuasi.
* Dapat dihitung sebelum closing / sewaktu-waktu
* Cost per produk relatif stabil selama asumsi tetap
Kelemahan Standard Cost :
* Bisa terjadi variance yang besar bila pemakaian asumsi-asumsi
pelaksanaannya jauh berbeda
* Kurang "Aktual" / kurang menggambarkan keadaan nyata di
lapangan/produksi
Actual Cost dihitung berdasarkan semua cost aktual jadi tidak berdasarkan
asumsi-asumsi, semua data-data dikumpulkan dari pemakaian material, harga,
cost labor aktual, cost FOH aktual, cycle time aktual. Padahal semua
data-data tersebut belum tentu mudah didapatkan. Actual Cost lebih menuntut
konsistensi data dan kebenaran data yang dikumpulkan jika terjadi kesalahan
akan berakibat langsung ke Cost per produk.

Keunggulan Actual Cost :
* Lebih mendekati kenyataan lapangan
* Cost per produknya aktual pada periode tertentu
Kelemahan Actual Cost :
* Tidak semua data yang dibutuhkan mudah didapat
* Dihitung setelah closing
* Menuntut konsistensi pengumpulan data yang ketat
* Cost per produk bisa sangat berfluktuatif
Menurut pengalaman, kami pernah mencoba mengimplementasikan Actual Cost
tapi hasilnya kadang agak kurang memuaskan karena konsistensi data dan
kebenaran data amat berpengaruh pada proses penghitungan cost. Fluktuasinya
kadang ekstrem sehingga kadang menjadi membingungkan (menakutkan).
Sedangkan untuk melaksanakan ABC kami belum berani karena banyak pertimbangan

Saya pernah berpikir, Cost pada dasarnya alokasi karena tidak semua Cost
dapat ditracking ke object Costnya.Jadi actual Costing yang benar2 aktual
sulit sekali dihitung. Mungkinkan ada jalan tengah diantara keduanya?

Material Cost dapat ditracking ke produknya (walaupun tidak di semua
industri) sehingga dapat dipakai pemakaian aktualnya baik quantity maupun
amountnya. Namun kalau Cost Labor dan FOH belum bisa didapat nilai
aktualnya sebelum closing maka Rate nya dapat dihitung terlebih dahulu dari
budget.

Material cost = Actual qty x Actual price
Labor Cost = Actual time consumed x Rate Labor Standard
FOH Cost = Actual time consumed x Rate FOH Standard

Sehingga Variance yang terjadi hanya Labor & FOH Cost yang budgetnya
relatif lebih tepat.

Apakah ERP seperti SAP dapat mengadopsi ini? Atau hanya yang standard cost
aja?

Bisa mohon pencerahan dari Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian?

Thanks…

Best Regards,

Adjie

Standard vs Actual Costing

Standard vs Actual Costing

Standard Cost dihitung berdasarkan nilai budget dan berbagai elemen yang
berupa asumsi-asumsi seperti
* Pemakaian material menurut standar BOM
* Harga material yang tetap
* Kapasitas produksi normal
* Cycle Time/Time consumed standard
* Labor Cost yang sesuai budget
* FOH yang sesuai budget
* etc
Dengan kata lain Standard Cost adalah biaya yang semestinya (telah
dianggarkan/diperhitungkan) untuk membuat suatu produk. Standard Cost dapat
diperoleh sebelum aktual produksi terjadi, sedang berjalan tidak perlu
menunggu sampai akhir bulan setelah semua cost dikumpulkan dan dihitung.
Biasanya digunakan untuk pricing awal dan diupdate setiap saat diperlukan
(variance yang terjadi cukup besar). Budget vs Aktual = Variance
Keunggulan Standard Cost :
* Relatif lebih mudah didapat karena tidak memerlukan data lapangan
yang berfluktuasi.
* Dapat dihitung sebelum closing / sewaktu-waktu
* Cost per produk relatif stabil selama asumsi tetap
Kelemahan Standard Cost :
* Bisa terjadi variance yang besar bila pemakaian asumsi-asumsi
pelaksanaannya jauh berbeda
* Kurang "Aktual" / kurang menggambarkan keadaan nyata di
lapangan/produksi
Actual Cost dihitung berdasarkan semua cost aktual jadi tidak berdasarkan
asumsi-asumsi, semua data-data dikumpulkan dari pemakaian material, harga,
cost labor aktual, cost FOH aktual, cycle time aktual. Padahal semua
data-data tersebut belum tentu mudah didapatkan. Actual Cost lebih menuntut
konsistensi data dan kebenaran data yang dikumpulkan jika terjadi kesalahan
akan berakibat langsung ke Cost per produk.

Keunggulan Actual Cost :
* Lebih mendekati kenyataan lapangan
* Cost per produknya aktual pada periode tertentu
Kelemahan Actual Cost :
* Tidak semua data yang dibutuhkan mudah didapat
* Dihitung setelah closing
* Menuntut konsistensi pengumpulan data yang ketat
* Cost per produk bisa sangat berfluktuatif
Menurut pengalaman, kami pernah mencoba mengimplementasikan Actual Cost
tapi hasilnya kadang agak kurang memuaskan karena konsistensi data dan
kebenaran data amat berpengaruh pada proses penghitungan cost. Fluktuasinya
kadang ekstrem sehingga kadang menjadi membingungkan (menakutkan).
Sedangkan untuk melaksanakan ABC kami belum berani karena banyak pertimbangan

Saya pernah berpikir, Cost pada dasarnya alokasi karena tidak semua Cost
dapat ditracking ke object Costnya.Jadi actual Costing yang benar2 aktual
sulit sekali dihitung. Mungkinkan ada jalan tengah diantara keduanya?

Material Cost dapat ditracking ke produknya (walaupun tidak di semua
industri) sehingga dapat dipakai pemakaian aktualnya baik quantity maupun
amountnya. Namun kalau Cost Labor dan FOH belum bisa didapat nilai
aktualnya sebelum closing maka Rate nya dapat dihitung terlebih dahulu dari
budget.

Material cost = Actual qty x Actual price
Labor Cost = Actual time consumed x Rate Labor Standard
FOH Cost = Actual time consumed x Rate FOH Standard

Sehingga Variance yang terjadi hanya Labor & FOH Cost yang budgetnya
relatif lebih tepat.

Apakah ERP seperti SAP dapat mengadopsi ini? Atau hanya yang standard cost
aja?

Bisa mohon pencerahan dari Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian?

Thanks…

Best Regards,

Adjie

Sales and distribution and retail method

Sales and distribution and retail method

pak, setahuku sistem distribusi antar sektor bisnis
berbeda-beda. Misalnya soal konsinyasi..di bisnis
sepatu biasanya pihak pabrik menerapkan model jual
putus ke distributornya.. jadi pihak pabrik menjual
dengan harga diskon yang diskon itu diharapkan menjadi
margin buat distributornya…biasanya berapapun kalau
sampai tidak laku di pasar, pihak disttibuitor tak
berhak mengembalikan barang ke pabrik…makanya
langsung di-obral…tapi pola ini nggak berlaku di
consumer good. kalau di consumer good ada model
konsinyasi dan pihak distributor semata-mata
mendistribusi dan kemudian diberikan margin..misalnya
5%. Nanti kalau barang tak laku bisa dikembalikan ke
prinsipal pemilik pabrik…aku punya teman pengusaha
sepatu kelas besar yang gagal di bisnis consumer good
gara-gara menganggap bisnis consumer good seperti
sepatu..tapi semua itu subject to negotiation pak.,.

Thanks

Adi

> Dear rekan2 semuanya,
> Saya ingin tanya kepada rekan2 members of APIC-ID
> ini tentang bagaimana itu bispro (bisnis proses)
> model konsinyasi beli-putus, in dan plus serta out.
> bagaimana AR/AP (aacount payable/account
> receivablenya), serta transaksi2 didalamnya. saya
> juga pernah ada baca buku mengenai costing method
> selain daripada FIFO, LIFO, Standard dan Average,
> ada retail method, adakah rekan2 yang bisa
> menjelaskannya ?
> Juga saya ingin tanya buku2 yang berhubungan
> dengan retail, distribution dan konsinyasi ini.
> apakah ada diantara rekan2 yang mengetahui buku mana
> yang bagus dan sangat mendekati praktisnya..tks
> banyak sebelumnya
>
>
> rgds,
> Anthoni

Sales and distribution and retail method

Sales and distribution and retail method

pak, setahuku sistem distribusi antar sektor bisnis
berbeda-beda. Misalnya soal konsinyasi..di bisnis
sepatu biasanya pihak pabrik menerapkan model jual
putus ke distributornya.. jadi pihak pabrik menjual
dengan harga diskon yang diskon itu diharapkan menjadi
margin buat distributornya…biasanya berapapun kalau
sampai tidak laku di pasar, pihak disttibuitor tak
berhak mengembalikan barang ke pabrik…makanya
langsung di-obral…tapi pola ini nggak berlaku di
consumer good. kalau di consumer good ada model
konsinyasi dan pihak distributor semata-mata
mendistribusi dan kemudian diberikan margin..misalnya
5%. Nanti kalau barang tak laku bisa dikembalikan ke
prinsipal pemilik pabrik…aku punya teman pengusaha
sepatu kelas besar yang gagal di bisnis consumer good
gara-gara menganggap bisnis consumer good seperti
sepatu..tapi semua itu subject to negotiation pak.,.

Thanks

Adi

> Dear rekan2 semuanya,
> Saya ingin tanya kepada rekan2 members of APIC-ID
> ini tentang bagaimana itu bispro (bisnis proses)
> model konsinyasi beli-putus, in dan plus serta out.
> bagaimana AR/AP (aacount payable/account
> receivablenya), serta transaksi2 didalamnya. saya
> juga pernah ada baca buku mengenai costing method
> selain daripada FIFO, LIFO, Standard dan Average,
> ada retail method, adakah rekan2 yang bisa
> menjelaskannya ?
> Juga saya ingin tanya buku2 yang berhubungan
> dengan retail, distribution dan konsinyasi ini.
> apakah ada diantara rekan2 yang mengetahui buku mana
> yang bagus dan sangat mendekati praktisnya..tks
> banyak sebelumnya
>
>
> rgds,
> Anthoni

Business Intelligence

Rekan-rekan,

Asyik juga nih diskusi tentang BI dengan Pro dan Kontra-nya. Pertama
biar nggak salah tangkep dulu. Saya benar-bener gelandangan bebas
dalam artian kerja untuk diri sendiri. Nggak punya kepentingan
mewakili vendor A, pro consulting company B, mewakili perusahaan C
dsb. Saya hanya punya ketertarikan dengan BI ini – nggak punya tujuan
untuk penetrate satu product tertentu.

Saya tertarik karena dari sejak 20 tahun lalu saya mulai menulis code
program saya yang pertama, tujuannya adalah provide information. Baik
untuk melakukan transaksi atau membuat keputusan. Dan konsep BI ini
menurut saya seolah merupakan bagian hilir dari itu semua. Sekarang
saya sedang tertarik mencoba BI Open Source – kalau ada rekan-rekan
yang tertarik, mari kita sama-sama mencoba, hasilnya bisa disebarkan
lewat Pak Syarwani. Kita buat BI for everyone – free lagi, productnya
nggak kalah jauh sama vendor-vendor besar.

Istilah BI sendiri entah itu dari vendor atau dari dunia pendidikan
saya tidak terlalu peduli. Mengapa? Karena istilah tersebut bagi saya
cukup mudah dan merangkum semua jargon-jargon yang menurut saya malah
membingungkan: ada Knowledge and Data Engineering, Decision Support
System, Executive Information System, Performance Scorecard, ETL,
Data Warehousing, Data Mining, dsb.

Sebelas tahun yang lalu saya pertama kali menggunakan Business Object
untuk keperluan Reporting dari satu ERP – saya hanya kenal namanya
report writer, bukan BI – walaupun canggih juga bisa pivoting kesana-
kemari. Istilah kerennya Multidimensional Analysis. Waktu itu saya
nggak pernah tahu istilah BI. Kurang gaul kah?

Setelah jalan beberapa tahun istilah BI makin populer. Saya coba
melihat apa itu BI, pengamatan saya solusi BI secara mudahnya
memiliki building block sebagai berikut:

1. Data Structure – data structure BI biasanya menganut Star Schema.
Dimana satu object data (FACT) bisa dipandang dari berbagai sudut
pandang (DIMENSION). Mis; Transaksi PO dilihat dari dimensi Product,
Vendor, dan Customer. Betul kata Pak Irsal – pivot excel. Kalau
design data kita nggak bisa dibuat pivot excel dengan mudah berati
design Star Schema kita pasti salah. Data structure ini cara
penyimpanannya berkembang, tujuannya satu – supaya retrieve datanya
cepat – maka keluarlah metoda penyimpanan dengan menggunakan Cube
(kalau pakai RDBMS biasa yah semacam summary table. Methoda ini bisa
dikenal dengan OLAP – ada Relational OLAP (ROLAP), Multidimensional
OLAP (MOLAP) atau Hybrid OLAP (HOLAP). Anda bisa cari di internet
konsepnya.

2. ETL – Extract Transfor Loading. Karena BI bisanya memadukan
informasi dari berbagai sumber informasi maka dibutuhkan satu engine
yang dapat menarik data dari sumbernya, merubah formatnya supaya
seragam (data tanggal harus sama, kode Customer harus sama dsb), lalu
dimasukkan ke dalam struktur data yang kita siapkan tadi sudah. Dari
jaman jebot kita sudah bisa melakukan ini. Misalnya: di Oracle pakai
aja PL/SQL, buat procedure lalu kita schedulekan jobnya. Iya kalau
sumber datanya satu, kalau banyak? Gimana dengan lintas platform -
data source di Unix data warehouse di Windows? – gimana kita ngontrol
sequence-nya, gimana kita tahu ada sequence yang fail, gimana kita
bisa restart dengan mudah? Biasanya solusi BI meng-cover ETL tool
ini. Ada juga beberapa vendor yang fokus produce ETL tool seperti
sunopsis misalnya.

3. Reporting Tool – Setelah data masuk paling gampang kita keluarkan
menjadi report. Entah itu report tabular atau charting. Yang ini juga
dari jaman jebot juga udah pada pakai. Ujung-ujungnya report.

4. Multidimensional Analysis (OLAP Analysis) – Memanfaatkan design
data yang ada di nomor 1 tadi dengan memberikan kemampuan kepada user
untuk melakukan analysis multidmensi. Seperti melakukan pivot table
dan pivot charting di excel mungkin penjelasan secara mudahnya.
Diatambah dengan statistik dan kemampuan untuk melakukan forecast
dengan memasukkan parameter-parameter tertentu vendor biasa
menyebutnya dengan data mining.

5. Drill Down dan Drill Through. Point 3 dan 4 tadi harus
memungkinkan user untuk melakukan drill down – membreakdown informasi
pada level yang lebih detail – misalnya dari summary pembelian
customer sampai product yang dibelingnya. Dan drill through – dari
data product tadi kita bisa click untuk mendapatkan trend dari setiap
product.

6. Dashboarding – Menampilkan informasi-informasi dalam bentuk
summary data. Biasanya populer dalam bentuk Chart yang dimana dengan
sekali melihat kita bisa tahu apa yang terjadi dengan business kita
dan bagaimana follow upnya.

7. Personalization – 3, 4, 5, 6 diatas akan percuma bila kita tidak
dapat melakukan personalisasi data. Kita akan kebanyakan informasi
yang mungkin tidak kita butuhkan. Kita seharusnya bisa memilih report
yang saya butuhkan a,b,c,d. Dashboard saya berisi informasi x,y,z.
Data-data yang tampil pada layar kita hanya data-data yang relevan
dengan pekerjaan dan tanggung jawab kita.

8. Alerting and Collaboration. Sistem BI kita hendaknya dapat
mengingatkan kita bila ada performance yang membutuhkan perhatian
kita. Kita dapat memasukkan action plan – menunjuk Person In Charge -
dan memonitor apakah action plan tersebut sudah terlaksana atau
belum. Hal tersebut dilakukan dengan memanfaatkan e-mail, mobile
devices, dsb.

Apa lagi ya?? – Hal diatas mungkin merupakan standard BI. Diatasnya
masih dapat kita tempatkan aplikasi-aplikasi untuk mengelola strategy
seperti Balanced Scorecard/Corporate Performance Management. Ada yang
membuat productnya tersambung dengan BI seperti SAP SEM (Strategic
Enterprise Management), Oracle Balance Scorecard. Atau yang specific
dibuat untuk kebutuhan tsb seperti QPR dan PBView/Performance View.
Rekan-rekan ada yang tahu versi Open Source dari ini? Ini satu-
satunya part di Opensource BI yang saya belum dapatkan.

Menurut saya bila item-item diatas sudah terimplementasi baru kita
bilang saya sudah mengimplementasikan BI. Saya pernah melihat
beberapa company yang bilang sudah implementasi BI – yang ada hanya
OLAP Analysis Tool atau Reporting Tool saja. Ada juga vendor yang
bilang software saya sudah ada BI-nya, yang isinya cuma Report dan
Charting tool saja.

BI bagi saya sangat menarik karena menggabungkan pemahaman business
dengan database management. Di depan masih ada penggabungan BI dengan
Artificial Intelligent, Fuzzy Logic, Neural Network, dsb. Resultnya
bisa seperti Plant Intelligence System.

Satu yang masih harus saya jelaskan/diskusikan – mungkin. Saya masih
beranggapan bahwa implementasi BI ini tidak harus menunggu ERP
perfect. Saya akan coba tuliskan business case kecil, nanti kalau ada
waktu untuk hal ini. Mungkin di Industri saya yang Non Manufacturing,
dimana Value Chain-nya sangat sedikit terkait dengan ERP, hal diatas
relevan.

Pada Oil & Gas, Mining, dan Utilities ERP biasanya tidak mengcover
proses planning dan production. ERP hanya mengcover support
activities seperti Maintenance, Sparepart Inventory/Procurement, HR
dan Finance. Value Chain yang menjadi jantung produksi biasanya
dikelola dengan software-software yang spesifik untuk kebutuhan
planning dan production. BI akan mengambil data-data dari software-
software ini. Dalam banyak kasus biasanya terjadi dikotomi disini
Software-software plant dikelola oleh Plant Operation sedang kan
software business dikelola oleh MIS. Padahal informasi-nya bila
digabungkan akan menjadi sangat berguna.

Anyway – jargon ERP bahwa semua harus terintegrasi dalam satu
software package dalam beberapa tahun ke depan juga mungkin tidak
relevan lagi. Konsep Service Oriented Architecture (SOA)/Enterprise
Application Integration akan mempermudah kita menggabungkan informasi
dari berbagai software – semua akan menganut Open Architecture.
Setiap software akan menyediakan service dimana menurut kita software
tersebut terbaik dalam penyediaan service tersebut. Bisa saja terjadi
konfigurasi Maintenance pakai Maximo, FI/CO pakai SAP, purchasing
pakai Commerce One (?? Lupa namanya), CRM pakai Siebel, BI pakai
Business Objects – di dalam satu perusahaan. Pokoknya Campursari-lah
he..he..he..

Kalau sekarang kelihatannya makin susah tapi kalau melihat
Netweaver, Oracle Fusion, dan engine-engine integrasi seperti MS
Biztalk dan Web Method hal tersebut tidak akan jauh lagi.

Sorry kepanjangan – masih banyak lagi sebenarnya topik-topik BI yang
menarik untuk dijadikan bahan diskusi.

Business Intelligence

Rekan-rekan,

Asyik juga nih diskusi tentang BI dengan Pro dan Kontra-nya. Pertama
biar nggak salah tangkep dulu. Saya benar-bener gelandangan bebas
dalam artian kerja untuk diri sendiri. Nggak punya kepentingan
mewakili vendor A, pro consulting company B, mewakili perusahaan C
dsb. Saya hanya punya ketertarikan dengan BI ini – nggak punya tujuan
untuk penetrate satu product tertentu.

Saya tertarik karena dari sejak 20 tahun lalu saya mulai menulis code
program saya yang pertama, tujuannya adalah provide information. Baik
untuk melakukan transaksi atau membuat keputusan. Dan konsep BI ini
menurut saya seolah merupakan bagian hilir dari itu semua. Sekarang
saya sedang tertarik mencoba BI Open Source – kalau ada rekan-rekan
yang tertarik, mari kita sama-sama mencoba, hasilnya bisa disebarkan
lewat Pak Syarwani. Kita buat BI for everyone – free lagi, productnya
nggak kalah jauh sama vendor-vendor besar.

Istilah BI sendiri entah itu dari vendor atau dari dunia pendidikan
saya tidak terlalu peduli. Mengapa? Karena istilah tersebut bagi saya
cukup mudah dan merangkum semua jargon-jargon yang menurut saya malah
membingungkan: ada Knowledge and Data Engineering, Decision Support
System, Executive Information System, Performance Scorecard, ETL,
Data Warehousing, Data Mining, dsb.

Sebelas tahun yang lalu saya pertama kali menggunakan Business Object
untuk keperluan Reporting dari satu ERP – saya hanya kenal namanya
report writer, bukan BI – walaupun canggih juga bisa pivoting kesana-
kemari. Istilah kerennya Multidimensional Analysis. Waktu itu saya
nggak pernah tahu istilah BI. Kurang gaul kah?

Setelah jalan beberapa tahun istilah BI makin populer. Saya coba
melihat apa itu BI, pengamatan saya solusi BI secara mudahnya
memiliki building block sebagai berikut:

1. Data Structure – data structure BI biasanya menganut Star Schema.
Dimana satu object data (FACT) bisa dipandang dari berbagai sudut
pandang (DIMENSION). Mis; Transaksi PO dilihat dari dimensi Product,
Vendor, dan Customer. Betul kata Pak Irsal – pivot excel. Kalau
design data kita nggak bisa dibuat pivot excel dengan mudah berati
design Star Schema kita pasti salah. Data structure ini cara
penyimpanannya berkembang, tujuannya satu – supaya retrieve datanya
cepat – maka keluarlah metoda penyimpanan dengan menggunakan Cube
(kalau pakai RDBMS biasa yah semacam summary table. Methoda ini bisa
dikenal dengan OLAP – ada Relational OLAP (ROLAP), Multidimensional
OLAP (MOLAP) atau Hybrid OLAP (HOLAP). Anda bisa cari di internet
konsepnya.

2. ETL – Extract Transfor Loading. Karena BI bisanya memadukan
informasi dari berbagai sumber informasi maka dibutuhkan satu engine
yang dapat menarik data dari sumbernya, merubah formatnya supaya
seragam (data tanggal harus sama, kode Customer harus sama dsb), lalu
dimasukkan ke dalam struktur data yang kita siapkan tadi sudah. Dari
jaman jebot kita sudah bisa melakukan ini. Misalnya: di Oracle pakai
aja PL/SQL, buat procedure lalu kita schedulekan jobnya. Iya kalau
sumber datanya satu, kalau banyak? Gimana dengan lintas platform -
data source di Unix data warehouse di Windows? – gimana kita ngontrol
sequence-nya, gimana kita tahu ada sequence yang fail, gimana kita
bisa restart dengan mudah? Biasanya solusi BI meng-cover ETL tool
ini. Ada juga beberapa vendor yang fokus produce ETL tool seperti
sunopsis misalnya.

3. Reporting Tool – Setelah data masuk paling gampang kita keluarkan
menjadi report. Entah itu report tabular atau charting. Yang ini juga
dari jaman jebot juga udah pada pakai. Ujung-ujungnya report.

4. Multidimensional Analysis (OLAP Analysis) – Memanfaatkan design
data yang ada di nomor 1 tadi dengan memberikan kemampuan kepada user
untuk melakukan analysis multidmensi. Seperti melakukan pivot table
dan pivot charting di excel mungkin penjelasan secara mudahnya.
Diatambah dengan statistik dan kemampuan untuk melakukan forecast
dengan memasukkan parameter-parameter tertentu vendor biasa
menyebutnya dengan data mining.

5. Drill Down dan Drill Through. Point 3 dan 4 tadi harus
memungkinkan user untuk melakukan drill down – membreakdown informasi
pada level yang lebih detail – misalnya dari summary pembelian
customer sampai product yang dibelingnya. Dan drill through – dari
data product tadi kita bisa click untuk mendapatkan trend dari setiap
product.

6. Dashboarding – Menampilkan informasi-informasi dalam bentuk
summary data. Biasanya populer dalam bentuk Chart yang dimana dengan
sekali melihat kita bisa tahu apa yang terjadi dengan business kita
dan bagaimana follow upnya.

7. Personalization – 3, 4, 5, 6 diatas akan percuma bila kita tidak
dapat melakukan personalisasi data. Kita akan kebanyakan informasi
yang mungkin tidak kita butuhkan. Kita seharusnya bisa memilih report
yang saya butuhkan a,b,c,d. Dashboard saya berisi informasi x,y,z.
Data-data yang tampil pada layar kita hanya data-data yang relevan
dengan pekerjaan dan tanggung jawab kita.

8. Alerting and Collaboration. Sistem BI kita hendaknya dapat
mengingatkan kita bila ada performance yang membutuhkan perhatian
kita. Kita dapat memasukkan action plan – menunjuk Person In Charge -
dan memonitor apakah action plan tersebut sudah terlaksana atau
belum. Hal tersebut dilakukan dengan memanfaatkan e-mail, mobile
devices, dsb.

Apa lagi ya?? – Hal diatas mungkin merupakan standard BI. Diatasnya
masih dapat kita tempatkan aplikasi-aplikasi untuk mengelola strategy
seperti Balanced Scorecard/Corporate Performance Management. Ada yang
membuat productnya tersambung dengan BI seperti SAP SEM (Strategic
Enterprise Management), Oracle Balance Scorecard. Atau yang specific
dibuat untuk kebutuhan tsb seperti QPR dan PBView/Performance View.
Rekan-rekan ada yang tahu versi Open Source dari ini? Ini satu-
satunya part di Opensource BI yang saya belum dapatkan.

Menurut saya bila item-item diatas sudah terimplementasi baru kita
bilang saya sudah mengimplementasikan BI. Saya pernah melihat
beberapa company yang bilang sudah implementasi BI – yang ada hanya
OLAP Analysis Tool atau Reporting Tool saja. Ada juga vendor yang
bilang software saya sudah ada BI-nya, yang isinya cuma Report dan
Charting tool saja.

BI bagi saya sangat menarik karena menggabungkan pemahaman business
dengan database management. Di depan masih ada penggabungan BI dengan
Artificial Intelligent, Fuzzy Logic, Neural Network, dsb. Resultnya
bisa seperti Plant Intelligence System.

Satu yang masih harus saya jelaskan/diskusikan – mungkin. Saya masih
beranggapan bahwa implementasi BI ini tidak harus menunggu ERP
perfect. Saya akan coba tuliskan business case kecil, nanti kalau ada
waktu untuk hal ini. Mungkin di Industri saya yang Non Manufacturing,
dimana Value Chain-nya sangat sedikit terkait dengan ERP, hal diatas
relevan.

Pada Oil & Gas, Mining, dan Utilities ERP biasanya tidak mengcover
proses planning dan production. ERP hanya mengcover support
activities seperti Maintenance, Sparepart Inventory/Procurement, HR
dan Finance. Value Chain yang menjadi jantung produksi biasanya
dikelola dengan software-software yang spesifik untuk kebutuhan
planning dan production. BI akan mengambil data-data dari software-
software ini. Dalam banyak kasus biasanya terjadi dikotomi disini
Software-software plant dikelola oleh Plant Operation sedang kan
software business dikelola oleh MIS. Padahal informasi-nya bila
digabungkan akan menjadi sangat berguna.

Anyway – jargon ERP bahwa semua harus terintegrasi dalam satu
software package dalam beberapa tahun ke depan juga mungkin tidak
relevan lagi. Konsep Service Oriented Architecture (SOA)/Enterprise
Application Integration akan mempermudah kita menggabungkan informasi
dari berbagai software – semua akan menganut Open Architecture.
Setiap software akan menyediakan service dimana menurut kita software
tersebut terbaik dalam penyediaan service tersebut. Bisa saja terjadi
konfigurasi Maintenance pakai Maximo, FI/CO pakai SAP, purchasing
pakai Commerce One (?? Lupa namanya), CRM pakai Siebel, BI pakai
Business Objects – di dalam satu perusahaan. Pokoknya Campursari-lah
he..he..he..

Kalau sekarang kelihatannya makin susah tapi kalau melihat
Netweaver, Oracle Fusion, dan engine-engine integrasi seperti MS
Biztalk dan Web Method hal tersebut tidak akan jauh lagi.

Sorry kepanjangan – masih banyak lagi sebenarnya topik-topik BI yang
menarik untuk dijadikan bahan diskusi.

ABAP (Advanced Business Application Programming)

Apa itu ABAP ?

ABAP adalah salah satu bahasa pemrograman generasi keempat (4GL)
pertama kali dikembangkan pada tahun 1980an. Pada awalnya
diperuntukan sebagai bahasa untuk laporan (Report language) khusus
untuk SAP R/2 (Sistem SAP yang jalan di komputer mainframe) yang
merupakan platform yang memungkin perusahaan besar mengembangkan
aplikasi bisnis untuk logistik dan keuangan.

ABAP sebelumnya diambil dari singkatan dalam bahasa Jerman
Allgemeiner Berichts aufbereitungs prozessor yang dalam bahasa
Inggris berarti generic report preparation processor, yang kemudian
berubah namanya menjadi Advanced Business Application Programming.

ABAP adalah bahasa pemrograman pertama yang memasukkan konsep
Logical database (LDBs), yang memberikan abstraksi tingkat tinggi
dari database tingkat dasar (dikenal pada manajemen sistem
database). Pada awalnya ABAP diperuntukan bagi pengguna biasa (end-
user) sehingga dapat memanipulasi datanya sendiri, akan tetapi
bahasa pemrograman generasi keemapat ini (4GL) sangat kompleks untuk
pengguna biasa, sehingga kemampuan programman yang cukup masih
diperlukan untuk membuat program ABAP.

ABAP saat ini digunakan sebagai dasar pembuatan aplikasi client-
server SAP R/3. SAP pertama kali meluncurkan produk R3 tahun 1992.
Perkembangan teknologi computer client-server yang terus melaju
dengan pesat sepanjang tahun 1990an, banyak sekali aplikasi SAP
dikembangkan menggunakan bahasa ABAP, hingga tahun 2001 saja hampir
semua fungsi-funsi dasar system SAP R/3 ditulis dalam bahasa ABAP.
Tahun 1999 SAP meluncurkan Object Oriented Extention atau perluasan
bahasa Object Oriented untuk ABAP yang dinamakan ABAP Objects yang
dikeluarkan bersamaan dengan SAP R/3 Release 4.5.

Platform pengembangan terkini yang dikenalkan SAP saat ini adalah
NetWeaver yang mendukung ABAP dan Java.

Berdasarkan pengalaman penulis sebagai konsultan SAP, bahasa
pemrograman ABAP ini akan tetap bertahan dan terus dikembangkan oleh
SAP, bahkan ada kecenderungan SAP akan memasukkan fitur-fitur yang
dimiliki bahasa Java kedalam ABAP, dengan menguasai bahasa
pemrograman ABAP yang merupakan salah satu kunci mengenal sistem SAP
dan tentu saja akan menambah manfaat yang besar khususnya di dunia
pasaran kerja khususnya SAP yang saat ini masih memerlukan pakar
teknologi informasi yang menguasai ABAP.

wassalam,
Kang Yayan.
SAP Netweaver Certified

ABAP (Advanced Business Application Programming)

Apa itu ABAP ?

ABAP adalah salah satu bahasa pemrograman generasi keempat (4GL)
pertama kali dikembangkan pada tahun 1980an. Pada awalnya
diperuntukan sebagai bahasa untuk laporan (Report language) khusus
untuk SAP R/2 (Sistem SAP yang jalan di komputer mainframe) yang
merupakan platform yang memungkin perusahaan besar mengembangkan
aplikasi bisnis untuk logistik dan keuangan.

ABAP sebelumnya diambil dari singkatan dalam bahasa Jerman
Allgemeiner Berichts aufbereitungs prozessor yang dalam bahasa
Inggris berarti generic report preparation processor, yang kemudian
berubah namanya menjadi Advanced Business Application Programming.

ABAP adalah bahasa pemrograman pertama yang memasukkan konsep
Logical database (LDBs), yang memberikan abstraksi tingkat tinggi
dari database tingkat dasar (dikenal pada manajemen sistem
database). Pada awalnya ABAP diperuntukan bagi pengguna biasa (end-
user) sehingga dapat memanipulasi datanya sendiri, akan tetapi
bahasa pemrograman generasi keemapat ini (4GL) sangat kompleks untuk
pengguna biasa, sehingga kemampuan programman yang cukup masih
diperlukan untuk membuat program ABAP.

ABAP saat ini digunakan sebagai dasar pembuatan aplikasi client-
server SAP R/3. SAP pertama kali meluncurkan produk R3 tahun 1992.
Perkembangan teknologi computer client-server yang terus melaju
dengan pesat sepanjang tahun 1990an, banyak sekali aplikasi SAP
dikembangkan menggunakan bahasa ABAP, hingga tahun 2001 saja hampir
semua fungsi-funsi dasar system SAP R/3 ditulis dalam bahasa ABAP.
Tahun 1999 SAP meluncurkan Object Oriented Extention atau perluasan
bahasa Object Oriented untuk ABAP yang dinamakan ABAP Objects yang
dikeluarkan bersamaan dengan SAP R/3 Release 4.5.

Platform pengembangan terkini yang dikenalkan SAP saat ini adalah
NetWeaver yang mendukung ABAP dan Java.

Berdasarkan pengalaman penulis sebagai konsultan SAP, bahasa
pemrograman ABAP ini akan tetap bertahan dan terus dikembangkan oleh
SAP, bahkan ada kecenderungan SAP akan memasukkan fitur-fitur yang
dimiliki bahasa Java kedalam ABAP, dengan menguasai bahasa
pemrograman ABAP yang merupakan salah satu kunci mengenal sistem SAP
dan tentu saja akan menambah manfaat yang besar khususnya di dunia
pasaran kerja khususnya SAP yang saat ini masih memerlukan pakar
teknologi informasi yang menguasai ABAP.

wassalam,
Kang Yayan.
SAP Netweaver Certified