Monthly Archives: February 2008

Virtual Project : SAP Development Project at ERPWeaver.com

Dalam rangka meningkatkan SDM IT Indonesia, Komputer & Teknologi
bekerja sama dengan ERPWeaver.com dan IPOMS Indonesia akan
menyelenggarakan "SAP Development Project (SDP) Event" khusus untuk
alumni Pelatihan ABAP Komputer & Teknologi.
Dalam event SDP Ini peserta dapat belajar, mengenal dan merasakan
bagaimana sesungguhnya bekerja di "real" SAP Project. Peserta akan
diminta menbuat dokumen Functional Design Specification (FDS) dan
Technical Design Specification (TDS) untuk masing-masing project yg
akan ditentukan.
Development yang akan dilaksanakan adalah berbasiskan RICE
(Reporting, Interface, Convertion & Enhancements)
Lama proyek akan berlangsung sekitar 3 bulan. Pada saat proyek
berlangsung peserta akan melakukan:

- SAP Project Methodology / Best practice

- Weekly meeting / Status meeting (laporan/report dari pekerjaan
yang ditangani).

Internal Peer Review: Peserta akan merepresentasikan hasil
pekerjaannya ke client (pemberi pekerjaaan).

Integration test: Testing aplikasi yg dibuatnya dengan module lain
yg terkait.

- Go Live.

Peserta yg berhasil Go Live akan diberikan Certificate of Project
Completion dan Certificate of Excelence bagi yg terbaik.

Project Kick off /due date akan diberitahukan kemudian.

salam,
Moderator ERPWeaver.
Pusat Studi ERP Indonesia
http://www.ERPweaver.com

Virtual Project : SAP Development Project at ERPWeaver.com

Dalam rangka meningkatkan SDM IT Indonesia, Komputer & Teknologi
bekerja sama dengan ERPWeaver.com dan IPOMS Indonesia akan
menyelenggarakan "SAP Development Project (SDP) Event" khusus untuk
alumni Pelatihan ABAP Komputer & Teknologi.
Dalam event SDP Ini peserta dapat belajar, mengenal dan merasakan
bagaimana sesungguhnya bekerja di "real" SAP Project. Peserta akan
diminta menbuat dokumen Functional Design Specification (FDS) dan
Technical Design Specification (TDS) untuk masing-masing project yg
akan ditentukan.
Development yang akan dilaksanakan adalah berbasiskan RICE
(Reporting, Interface, Convertion & Enhancements)
Lama proyek akan berlangsung sekitar 3 bulan. Pada saat proyek
berlangsung peserta akan melakukan:

- SAP Project Methodology / Best practice

- Weekly meeting / Status meeting (laporan/report dari pekerjaan
yang ditangani).

Internal Peer Review: Peserta akan merepresentasikan hasil
pekerjaannya ke client (pemberi pekerjaaan).

Integration test: Testing aplikasi yg dibuatnya dengan module lain
yg terkait.

- Go Live.

Peserta yg berhasil Go Live akan diberikan Certificate of Project
Completion dan Certificate of Excelence bagi yg terbaik.

Project Kick off /due date akan diberitahukan kemudian.

salam,
Moderator ERPWeaver.
Pusat Studi ERP Indonesia
http://www.ERPweaver.com

Implementasi ERP: Antara kebutuhan dan keinginan

Mungkin ini sekedar pengalaman pribadi dan agak bersifat subyektif.
pertama kali saya mengenal ERP adalah ketika teman saya mendemokan
program IFS, sebelumnya saya belum tahu apalagi kenal dengan ERP.
Kesan saya waktu itu adalah bahwa ERP adalah sesuatu yang kompleks dan
membingungkan. Tapi setelah didemokan oleh teman saya tersebut saya
baru merasakan bahwa ERP sangat menarik. Satu hal yang tidak menarik
dari ERP adalah harganya yang MAHAL. Kemudian saya mengenal Axapta,
saya mengenal Axapta karena kebetulan di tempat saya akhirnya memilih
Axapta. Terlepas dari harganya yang mahal (setidaknya menurut saya),
kelebihan Axapta sebagaimana yg dipromosikan oleh implementor waktu
itu adalah "Dengan Axapta Kita Bisa Membuat Kemampuan ERO menjadi Tak
Terbatas". Memang harus diakui kemampuan kustomisasi Axapta
luarbiasa, setidaknya dari hasil demo waktu itu.

Singkat cerita akhirnya kami mengimplementasikan Axapta, dengan
target yg waktu itu menurut saya agak muluk2, yaitu menyesuaikan
Axapta dengan bisnis proses yang ada ditempat saya (Tapi konsultan
kami menyatakan kesanggupan). Waktu terus berlalu tidak terasa hampir
setahun, dan hasil yg dijanjikan masih jauh dari sempurna. memang
bisa di kustomise sana-sini, tapi mengakibatkan timbulnya bug
sana-sini. Akhirnya pihak manajemen memutuskan untuk tidak
melanjutkan proyek ERP.

Kemudian saya mengenal lagi SAP, saya mengenal SAP dari Kang Yayan
dan Pak Syarwani cs. Saya mengenal IFS, Axapta, dan SAP pada situasi
yang berbeda. Saya mengenal IFS dari teman saya yg juga implementator
sehingga begitu memblow-up segala kemampuan IFS-nya. Beitu juga saya
mengenal Axapta dari seorang Implementaor yg memang punya misi agar
bisa berhasil masuk ditempat saya, sehingga sangat memblow-up dan
membanggakan kemampuan Axapta dalam melakukan kustomisasi. Sedangkan
saya mengenal SAP dari KY dan Pak Iwan ketika mengikuti traning SAP.
Apa bedanya? jelas beda. Kalau yg satu terlalu memblow-up karena ada
misi khusus, sedangkan Ky cs dari sisi yg realistis. kang Yayan saat
itu tegas2 menyarankan agar mengikuti best practice terlebih dahulu.
Dan melarang untuk melakukan kustomisasi sebelum yakin bahwa yg
melakukan memang bener2 mumpuni. dan KY juga melarang terlalu banyak
melakukan customisasi kalau menerapkan ERP.

Berangkat dari bekal ilmu yang diberikan Ky tersebut saya dengan nekad
mencoba untuk implementasi ERP lebih tepatnya Adempiere.

Dan saya juga sering meminjam istilah KY ketika sedang implementasi
Adempiere, yaitu SAP aja meyuruh menggunakan Best Practice :D. Maka
sayapun sangat menyarankan untuk melakukan Best Practice ketika
implementasi Adempiere.

Dan hasilnya januari kemarin sudah mulai Go Live, tetapi tentu saja
masih pararel.

Pelajaran yg saya petik adalah sbb:

1. Secara garis besar Hampir semua ERP punya kesamaan, tapi untuk
setiap tahap detilnya, berbeda. Ini yang saya maksudkan jika kita
melihat secara garis besar alur bisnis proses antar produk ERP. Jadi
kira 80% bisnis proses ERP hampir sama, 20%nya yg merupakan asesoris
berbeda. nah yg 20% ini yg dimainkan oleh masing2 brand ERP. Tapi
secara prinsip sebenarnya ERP itu hampir sama.

2. Jangan terjebak dengan kemampuan ERP dalam melakukan kustomisasi,
pilih jalan aman dengan menggunakan pendekatan best practice dulu.

Dari kesimpulan ini saya tidak memungkiri bahwa SAP merupakan ERP yg
sangat hebat dan Axapta juga terutama dalam melakukan kustomisasi.
Tapi apakah semua perusahaan membutuhkan SAP, Oracle, atau Axapta?
Dan Apakah semua perusahaan mampu membeli aplikasi yg harganya wah
tersebut? Saya yakin pasti banyak yg tidak mampu.

Analogi seperti ini mirip ketika kita memutuskan apakah ingin membeli
mercy, bmw, kijang, atau bahkan sepeda. jawabannya tergantung
kebutuhan. dan bukan tergantung keinginan.

Dan menurut pengalaman pribadi ternyata menggunakan Adempiere malah
saya anggap cukup untuk penggunaan sehari-hari. memang kalau bicara
keinginan, pinginnya sh pakai SAP :D tapi apa daya tidak terjangakau.
Pinginnya beli mercy tetapi hanya cukup beli sepeda dan itupun
sekedar untuk ke pasar yg jaraknya cuma 2 km.

Jadi ini saja dulu pengalaman pribadi saya, yang pinginnya
menggunakan SAP tapi cuma mampu menggunakan Adempiere. dan
alhamdulillah ternyata jalan dan mulus

Implementasi ERP: Antara kebutuhan dan keinginan

Mungkin ini sekedar pengalaman pribadi dan agak bersifat subyektif.
pertama kali saya mengenal ERP adalah ketika teman saya mendemokan
program IFS, sebelumnya saya belum tahu apalagi kenal dengan ERP.
Kesan saya waktu itu adalah bahwa ERP adalah sesuatu yang kompleks dan
membingungkan. Tapi setelah didemokan oleh teman saya tersebut saya
baru merasakan bahwa ERP sangat menarik. Satu hal yang tidak menarik
dari ERP adalah harganya yang MAHAL. Kemudian saya mengenal Axapta,
saya mengenal Axapta karena kebetulan di tempat saya akhirnya memilih
Axapta. Terlepas dari harganya yang mahal (setidaknya menurut saya),
kelebihan Axapta sebagaimana yg dipromosikan oleh implementor waktu
itu adalah "Dengan Axapta Kita Bisa Membuat Kemampuan ERO menjadi Tak
Terbatas". Memang harus diakui kemampuan kustomisasi Axapta
luarbiasa, setidaknya dari hasil demo waktu itu.

Singkat cerita akhirnya kami mengimplementasikan Axapta, dengan
target yg waktu itu menurut saya agak muluk2, yaitu menyesuaikan
Axapta dengan bisnis proses yang ada ditempat saya (Tapi konsultan
kami menyatakan kesanggupan). Waktu terus berlalu tidak terasa hampir
setahun, dan hasil yg dijanjikan masih jauh dari sempurna. memang
bisa di kustomise sana-sini, tapi mengakibatkan timbulnya bug
sana-sini. Akhirnya pihak manajemen memutuskan untuk tidak
melanjutkan proyek ERP.

Kemudian saya mengenal lagi SAP, saya mengenal SAP dari Kang Yayan
dan Pak Syarwani cs. Saya mengenal IFS, Axapta, dan SAP pada situasi
yang berbeda. Saya mengenal IFS dari teman saya yg juga implementator
sehingga begitu memblow-up segala kemampuan IFS-nya. Beitu juga saya
mengenal Axapta dari seorang Implementaor yg memang punya misi agar
bisa berhasil masuk ditempat saya, sehingga sangat memblow-up dan
membanggakan kemampuan Axapta dalam melakukan kustomisasi. Sedangkan
saya mengenal SAP dari KY dan Pak Iwan ketika mengikuti traning SAP.
Apa bedanya? jelas beda. Kalau yg satu terlalu memblow-up karena ada
misi khusus, sedangkan Ky cs dari sisi yg realistis. kang Yayan saat
itu tegas2 menyarankan agar mengikuti best practice terlebih dahulu.
Dan melarang untuk melakukan kustomisasi sebelum yakin bahwa yg
melakukan memang bener2 mumpuni. dan KY juga melarang terlalu banyak
melakukan customisasi kalau menerapkan ERP.

Berangkat dari bekal ilmu yang diberikan Ky tersebut saya dengan nekad
mencoba untuk implementasi ERP lebih tepatnya Adempiere.

Dan saya juga sering meminjam istilah KY ketika sedang implementasi
Adempiere, yaitu SAP aja meyuruh menggunakan Best Practice :D. Maka
sayapun sangat menyarankan untuk melakukan Best Practice ketika
implementasi Adempiere.

Dan hasilnya januari kemarin sudah mulai Go Live, tetapi tentu saja
masih pararel.

Pelajaran yg saya petik adalah sbb:

1. Secara garis besar Hampir semua ERP punya kesamaan, tapi untuk
setiap tahap detilnya, berbeda. Ini yang saya maksudkan jika kita
melihat secara garis besar alur bisnis proses antar produk ERP. Jadi
kira 80% bisnis proses ERP hampir sama, 20%nya yg merupakan asesoris
berbeda. nah yg 20% ini yg dimainkan oleh masing2 brand ERP. Tapi
secara prinsip sebenarnya ERP itu hampir sama.

2. Jangan terjebak dengan kemampuan ERP dalam melakukan kustomisasi,
pilih jalan aman dengan menggunakan pendekatan best practice dulu.

Dari kesimpulan ini saya tidak memungkiri bahwa SAP merupakan ERP yg
sangat hebat dan Axapta juga terutama dalam melakukan kustomisasi.
Tapi apakah semua perusahaan membutuhkan SAP, Oracle, atau Axapta?
Dan Apakah semua perusahaan mampu membeli aplikasi yg harganya wah
tersebut? Saya yakin pasti banyak yg tidak mampu.

Analogi seperti ini mirip ketika kita memutuskan apakah ingin membeli
mercy, bmw, kijang, atau bahkan sepeda. jawabannya tergantung
kebutuhan. dan bukan tergantung keinginan.

Dan menurut pengalaman pribadi ternyata menggunakan Adempiere malah
saya anggap cukup untuk penggunaan sehari-hari. memang kalau bicara
keinginan, pinginnya sh pakai SAP :D tapi apa daya tidak terjangakau.
Pinginnya beli mercy tetapi hanya cukup beli sepeda dan itupun
sekedar untuk ke pasar yg jaraknya cuma 2 km.

Jadi ini saja dulu pengalaman pribadi saya, yang pinginnya
menggunakan SAP tapi cuma mampu menggunakan Adempiere. dan
alhamdulillah ternyata jalan dan mulus