Gartner Report untuk pemilihan Enterprise Apps

By | January 12, 2011

Implementasi ERP adalah sebuah journey, bukan sekedar tujuan. Tergelitik dari
email yang berisi “Perusahaan yang sudah implementasi SAP”, seakan-akan
implementasi ERP adalah tujuan. Padahal, sangatlah tidak mungkin untuk
mengimplementasi seluruh modul di ERP secara sekaligus. SAP, Oracle E-Business
Suite, PeopleSoft, JD Edwards, Infor, Microsoft Dynamics semuanya menawarkan
hampir ratusan modul yang tidak mungkin bagi sebuah perusahaan
mengimplementasikan keseluruhan modul yang ada secara sekaligus.

Dalam menganalisis ERP secara modular, dibutuhkan sebuah lembaga pihak ketiga
yang secara objektif menganalisis seberapa komprehensif functionality yang
disediakan oleh sebuah aplikasi, seberapa fit fitur yang ditawarkan dengan
industri, dsb. Gartner dan Forrester adalah 2 dari lembaga yang memberikan
report secara reguler.

Di Universitas di tempat saya belajar, kebetulan menawarkan akses ke beberapa
report Gartner di tahun 2010, dan mungkin berguna bagi rekan-rekan sekalian jika
saya paparkan beberapa ringkasannya.

Gartner menggunakan Magic Quadrant, di mana digunakan 4 quadrant yang memetakan
‘Ability to Execute’ dan ‘Completeness of Vision’.
Quadrant Leaders: High Completeness of Vision, High Ability to Execute
Visionaries: High Completeness of Vision, Low Ability to Execute
Challengers: Low Completeness of Vision, High Ability to Execute
Niche players: Low Completeness of Vision, Low Ability to Execute

Berikut adalah hasil penilainnya. Saya tidak mencantumkan semuanya, hanya
beberapa vendor yang notable dan cukup dikenal.

Supply Chain for Process (2010)
SAP, Oracle, JDA dan Logility ditempatkan sebagai leaders. Infor ditempatkan
sebagai challenger. i2, OM, Quintiq, TXT ditempatkan sebagai visionaries. Infor,
Lawson, dan Manhattan Associates ditempatkan sebagai niche players.

Transportation Management (2010)
Oracle dan i2 ditempatkan sebagai leaders. JDA ditempatkan sebagai challengers,
sementara Manhattan dan SAP ditempatkan sebagai visionaries.

Warehouse Management (2009)
Manhattan WM, RedPrairie, dan Oracle EBS ditempatkan sebagai leader. SAP ERP
ditempatkan sebagai challenger. Sterling, Highjump dan SAP SCM ditempatkan
sebagai visionaries.

Corporate Performance Management Suites (2010)
Oracle, SAP, dan IBM ditempatkan sebagai leaders, sementara Infor ditempatkan
sebagai challenger. SAS, Exact, dan Clarity sebagai visionaries.

Enterprise Governance, Risk and Compliance Platform (2009)
Oracle, OpenPages, Bwise, Thomson Reuters ditempatkan sebagai leaders.

Enterprise Content Management (2009)
IBM, Microsoft, Oracle, EMC dan Open Text ditempatkan sebagai leaders. HP, SAP
ditempatkan sebagai niche players.

E-Recruitment (2009)
Taleo, Kenexa, Stepstone, dan PeopleClick ditempatkan sebagai leaders. Oracle
EBS, Peoplesoft, dan SAP ditempatkan sebagai challengers.

Master Data Management (2009)
Oracle UCM, IBM dan Initiate Systems ditempatkan sebagai leaders. SAP
ditempatkan sebagai niche player.

MDM for Product Data (2009)
Oracle, IBM ditempatkan sebagai leader. SAP ditempatkan sebagai challenger.

Sales Force Automation (2009)
Oracle CRM, Oracle Siebel CRM, and Salesforce.com ditempatkan sebagai leader.
Microsoft Dynamics, SAP, dan Sage SalesLogix ditempatkan sebagai challenger.

Selain itu, Gartner juga meluncurkan MarketScope, di mana tiap vendor di-rate
berturut-turut mulai dari strong positive, positive, promising, caution, hingga
strong negative.

Core Financial Management:
Oracle dan SAP dinilai strong positive. Infor, Microsoft, Lawson, dan Exact
dinilai positive.

Sales & Operation Planning (2009)
Oracle, i2, Steelwedge dan TXT dinilai positive. JDA, Logility, River Logic
dinilai promising. SAP, IBM Cognos dan Kinaxis dinilai caution.

Incentive Compensation (2010)
Oracle EBS, Calidius, Synygy, Varicent, Xactly dinilai positive. SAP, ZS dan
Excentive dinilai promising.

Supply Chain for Process Automation (2009)
Oracle, SAP, dan Logility dinilai strong positive. Infor, JDA dan OM Partners
dinilai positive. Manhattan, Lawson dinilai promising. i2, IFS dinilai caution.

Di Indonesia, seringkali customer termakan oleh marketing beberapa application
provider, dan mengimplementasikan enterprise application hanya untuk menaikkan
gengsi. Sementara, secara functionality, pada kenyataannya application provider
yang populer justru kadangkala dinilai rendah dan ketinggalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.