AIG Lippo: Investasi Miliaran Tak Sia-sia

By | September 8, 2011

AIG Lippo: Investasi Miliaran Tak Sia-sia

AIG Lippo salah satu contoh kasus implementasi teknologi informasi (TI) yang tepat, terencana, dan berhasil guna. Di perusahaan ini, TI telah dicoba diaplikasi sejak awal didirikan pada 1983 untuk menunjang semua aktivitas bisnis. Namun, baru pada 1994, perusahan patungan Lippo Grup dan AIG asal Amerika Serikat ini serius menggarap fasilitas TI mereka yang tertuang dalam blue print. Di cetak biru inilah, manajemen menjelaskan dan membuat analisis serta perencanaan akan seperti apa TI yang diterapkan. Dari situ ditetapkan pula model perusahaan kelak dengan TI sesuai dengan perencanaan tadi.

Wiriadi Saputra, Associate Director Operation System and Technology Group Head AIG Lippo, mengatakan implementasi TI di AIG Lippo sangat penting dalam menunjang kesuksesan bisnis yang digarap perusahaan. “Pada industri yang besar, implementasi TI dianggap sebagai komponen yang penting,” kata Wiriadi. Lebih khusus lagi pada AIG Lippo, komitmen jajaran manajemen untuk implementasi TI dengan berbagai risikonya sangat besar. Mereka memandang TI sebagai salah satu alat untuk bersaing bahkan mengalahkan kompetitor. Jika lebih difokuskan lagi, TI dimanfaatkan perusahaan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan serta memberikan kepuasan kepada nasabahnya.

Untuk semua itu, manajemen AIG Lippo tak sayang menanamkan uang dalam jumlah yang sangat besar. Sedikit-dikitnya Rp 10 miliar digelontorkan untuk kebutuhan TI. Peter Ong, Presiden i2BC (Indonesian infocosm Business Community), percaya atas besaran angka investasi tadi.

Ia menyodorkan hasil penelitian Celent, perusahaan jasa konsultasi dan riset TI di AS, bahwa AIG — perusahaan induk patungan AIG Lippo — memang menginvestasi uangnya lebih besar untuk TI dibanding perusahaan sejenis di AS. Pada 2002, AIG AS membelanjakan paling sedikit US$ 446 juta untuk kebutuhan TI. Angka ini lebih besar dari dana yang dibenamkan State Farm (US$ 413 juta), MetLife (US$ 360 juta), Allstate (US$ 336 juta), dan Zurich (US$ 331 juta). Sepanjang 2002, pertumbuhan investasi TI pada perusahaan asuransi besar di AS mencapai 7% dari tahun sebelumnya. Total investasi industri asuransi AS terhadap TI tahun 2002 diperkirakan US$ 18 miliar.

“Menurut perkiraan Celent Research, biaya TI di rata-rata perusahaan asuransi setara dengan 12% dari non-commission operating expenses,” jelas Peter Ong. Ia menambahkan, distribusi anggaran komponen TI terdiri atas biaya staf internal (44%), biaya konsultan (11%), lisensi piranti lunak dan support (20%), perangkat keras (15%), connectivity dan bandwidth (8%), dan lain-lain (2%).

Manajemen AIG Lippo tampaknya sadar betul pentingnya kebutuhan atas TI sehingga penyusunan investasi TI dimasukkan dalam perencanaan budget tahunan. Semuanya memang tidak sia-sia sebab perusahaan menerima benefit yang tak kalah besarnya. Penghematan biaya operasional, misalnya, mencapai 40% sejak implementasi TI.

Kata Wiriadi, pihaknya punya satu syarat dalam pemilihan perangkat hardware dan software: simpel dan seragam. Untuk PC, misalnya, semuanya menggunakan Intel Base dan Critical System dengan IBM High 400, sedangkan software semisal database atau internet menggunakan Microsoft. Pemakaian kedua brand ini bukan berarti yang terbaik, tapi menghindarkan terlalu banyak platform.

Dalam perkembangannya, implementasi TI di AIG Lippo kini memasuki tahap perencanaan ketiga. Di perusahaan ini, perencanaan arah dan kebijakan TI dirumuskan setiap lima tahun. Pada tahap pertama, arah kebijakan TI ditekankan pada pengembangan infrastruktur dan arsitektur peranti lunak. Termasuk di dalamnya penerapan komputerisasi yang terkoneksi ke local area network (LAN). Juga mendesain software sesederhana dan seluwes mungkin. Orientasi manajemen adalah membuat sistem TI mereka sefleksibel mungkin, sehingga mampu mengikuti perkembangan bisnis secara keseluruhan.

Tahap kedua (1999): implementasi mulai mengacu pada internetisasi plus pembenahan software. Tujuannya: agar bisa mengikuti perkembangan bisnis secara cepat. Maklum, saat itu industri asuransi sedang bertumbuh dengan luar biasa, khususnya dalam hal inovasi produk. Ekspansi juga mulai dirancang dengan membuka beberapa kantor cabang yang dihubungkan secara online. Saat ini, tujuh kantor cabang AIG Lippo telah tersambung.

Kini, hampir semua aspek dan lini bisnis AIG Lippo telah tersentuh TI. Komunikasi internal dan eksternal, contohnya, semakin mudah dan cepat dengan sistem email. Penyimpanan dokumen atau filling data menggunakan sistem imaging, penerapan sistem OLAP (online analitical processing) — semacam data warehousing — untuk fungsi pengumpulan data agar bisa masuk ke database. Ini termasuk membuat e-media, semacam majalah dinding, yang menjadi pusat informasi bagi semua karyawan. Untuk semua antisipasi perkembangan teknologi itu, AIG Lippo meraih banyak penhargaan. Seperti, HP Award untuk penerapan e-media dan Warta Ekonomi Award untuk pengembangan intranet.

Untuk tahap ketiga yang akan dimulai pada 2004, sejumlah rencana dan arah kebijakan investasi TI telah dirancang. Rencananya, dalam lima tahun ke depan, tenaga penjual di lapangan akan dibekali PDA (Personal Digital Assitance), sehingga mereka bisa menggenerate perencanaan finansial. Ini juga termasuk rencana pemanfaatan mobile phone, smart card, dan teknologi wireless. Ada pula keinginan manajemen untuk menerapkan B2B.

Namun, manajemen AIG Lippo mengakui bahwa banyak kendala yang menghadang dalam implementasi TI. Misalnya, biaya yang semakin besar oleh pergerakan nilai tukar rupiah dengan dolar. Juga, kesulitan mendapatkan staf human resources (HR) yang capable. Cepatnya perubahan teknologi itu sendiri juga menjadi penghambat implementasi TI di sini.

Manajemen mencoba menyiasatinya dengan cara memanfaatkan dan menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan. Artinya, AIG hanya akan mengeluarkan duit untuk teknologi yang diyakini mendukung bisnis mereka. Salah satu caranya, melakukan feasibility studi sebelum memutuskan penggunaan sistem atau teknologi. Pemenuhan SDM sesuai dengan kebutuhan disiasati dengan cara training dan fasilitas bagi mereka yang telah ada agar tidak hengkang.

Meskipun mengakui antisipasi cepat manajemen AIG Lippo terhadap perkembangan TI, namun Peter Ong menyarankan agar perusahaan ini memiliki enterprise architecture yang bisa scalable ke arah web services.

“Ada beberapa cara untuk melihat level spending TI yang optimal untuk perusahaan asuransi. Misalnya, mengukur dari investasi TI per pegawai,” ujar Peter. Di AS, katanya, bisa mencapai US$ 5,000–US$ 10,000, tergantung besar-tidaknya perusahaan khususnya dalam hal revenue. Memang, belum ada riset apakah nasabah AIG Lippo benar-benar terpuaskan oleh pelayanan yang serba TI ini seperti yang mereka paparkan dengan bangga di tulisan ini.

 

Sumber: Swa

Leave a Reply

Your email address will not be published.