Investasi Rp Triliunan Itu Masih Bisa Diselamatkan

By | September 8, 2011

Investasi Rp Triliunan Itu Masih Bisa Diselamatkan …

Oke, perusahaan Anda telanjur membenamkan dana sampai ratusan miliar rupiah untuk pengembangan sistem teknologi informasi (TI), yang menurut janji akan membuat perusahaan Anda lebih produktif, efisien, memuaskan pelanggan, bahkan menciptakan bisnis baru dari data perilaku pelanggan Anda. Ternyata, janji tinggal janji. Anda termasuk kelompok yang dikecewakan? Baca halaman per halaman berikut. Masih ada jalan keluar …

Kemal E. Gani.

Gara-gara proyek TI, eksekutif puncak Polaris Software Lab. Ltd., harus mendekam di bui. Perusahaan TI asal India yang antara lain pernah menggarap sistem komputer Citibank N.A. ini, dikontrak Bank Artha Graha untuk mengerjakan aplikasi sistem perbankan ritel. Direksi Artha Graha selain tak puas atas kinerja aplikasi garapan Polaris, juga menganggap pengerjaannya lamban, bahkan kemudian menganggap aplikasi itu tak layak pakai. Buntutnya, Direksi Artha Graha meminta proyek senilai Rp 11,5 miliar itu dibatalkan, dan semua uang yang sudah dibayar dikembalikan. Karena tak ada kompromi, dua eksekutif puncak Polaris pun dipenjara.

Berita di atas adalah contoh ekstrem tindakan klien yang merasa tak puas atas upaya penerapan TI di perusahaannya. Selain Artha Graha, banyak perusahaan lain di sini yang juga telanjur membenamkan dana sampai ratusan miliar rupiah untuk penerapan sistem TI, dan juga kurang berhasil.

Bisa jadi, serentetan pertanyaan seperti berikut sudah dilontarkan para pemilik dan bos perusahaan ke para penanggung jawab TI perusahaan, vendor atau konsultan integrator sistem: “Apa hasil investasi TI yang sudah dilakukan? Katanya bisa meningkatkan produktivitas dan menekan biaya? Mana buktinya? Lalu, mana janji bisa tersedia laporan konsolidasi dan semua departemen bisa bekerja sama, serta berbagi informasi secara real time dan terintegrasi? Selain itu, bagaimana dengan cerita pelanggan yang bisa dipuaskan secara personal itu? Kenapa malah banyak pelanggan yang menggerutu dan pindah ke kompetitor?”

Ya, where is the payback? Itulah mungkin inti banyak pertanyaan yang kini diajukan para pemilik dan top manajemen perusahaan atas investasi TI yang sudah mereka benamkan. Memang, mereka tak sampai harus senekat — dan kebetulan punya power — seperti eksekutif Artha Graha yang melaporkan konsultan atau vendor mereka ke polisi untuk dipenjarakan. Namun, banyak dari mereka kini harus menanggung kerugian US$ jutaan, atau aplikasinya tak bisa dimanfaatkan optimal. Banyak contohnya. Misalnya, yang terjadi di industri telepon seluler. Hampir semua perusahaan ponsel di sini, sudah beberapa kali mengganti billing system-nya dengan investasi US$ jutaan. Salah satunya, pada tahun awal operasionalnya pernah membakar US$ 7-8 juta sia-sia untuk rencana implementasi billing system.

Lalu, yang terjadi di salah satu grup perusahaan makanan dan minuman terbesar di sini. Untuk peningkatan kualitas infrastruktur perusahaan, sistem online, dan otomasi seluruh jaringan bisnisnya, sehingga semua jaringan depo dan cabangnya di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri bisa terintegrasi, produsen makanan instan dan snack itu mengembangkan dan mengimplementasi sistem enterprise resources planning berbasis SAP dengan bujet sekitar US$ 10 juta (Rp 90 miliar), sementara software sebelumnya ditinggalkan karena sistemnya tak sesuai lagi dengan kebutuhan. Kabarnya, implementasi SAP ini termasuk yang terbesar di Asia. Setelah proses implementasi berjalan dua tahun lebih, direksi perusahaan ini juga mengeluh, integrasi sistem yang diharapkannya tak kunjung terwujud.

Bagaimanapun, dana sudah dikucurkan. Waktu dan tenaga sudah pula disisihkan. Jika ditotal, nilai investasi yang sudah ditanamkan perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk TI selama beberapa tahun terakhir mencapai Rp triliunan. BRI, misalnya, untuk jangka tiga tahun sejak 2001, mengalokasikan US$ 100 juta. BCA, tahun lalu saja menganggarkan US$ 40 juta. Yang juga menganggarkan dana besar untuk TI, antara lain: Indofood, Garuda Indonesia, Astra International, AstraWorld, United Tractors Indonesia, Grup HM Sampoerna, Bank Mandiri, Telkom, Indosat, dan semua operator seluler GSM.

Menurut Data IDC Asia Pasifik, Investasi TI perusahaan-perusahaan di Indonesia pada 2001 sebesar US$ 858 juta, tahun lalu diperkirakan US$ 896,6 juta, dan tahun 2003 menjadi US$ 1,08 miliar. Dari angka tersebut, kontribusi belanja software diperkirakan mencapai 40%.

Berdasarkan data di atas, nilai yang sudah dan hendak ditanamkan di bidang TI memang cukup signifikan. Alokasi dana segede itu yang tujuannya mengintegrasikan semua proses bisnis, efisiensi, meningkatkan produktivitas, mengelola SDM, memuaskan dan mengoptimalkan pelanggan itu, memang sudah seharusnya dilakukan. Sebab, jika visi dan implementasi benar, hasilnya sungguh luar biasa. Di Amerika Serrikat, misalnya, sejak pertengahan 1990-an banyak top eksekutifnya berani mengambil risiko menerapkan teknologi baru dan cara baru berbisnis untuk memacu produktivitas, pemangkasan biaya, dan memuaskan pelanggan. Hasilnya, perusahaan nonkeuangan di sana rata-rata berhasil mendongkrak 25% produktivitas mereka.

Namun masalahnya, banyak juga dari investasi itu yang tak jelas juntrungannya, seperti dipaparkan di awal tulisan ini. Dan itu tak hanya terjadi di Indonesia. Peter Ong, Presiden i2bc, mengatakan, banyak proyek implementasi TI seperti customer relationship management (CRM) terbukti jauh dari sukses. Peter juga mengutip hasil studi Gartner yang menyebutkan bahwa 2/3 proyek CRM besar gagal mencapai sasaran. Data yang diungkapkan Peter juga sejalan dengan hasil studi The Standish Group, yang menyebutkan hanya 28% proyek TI besar yang mampu mencapai harapan.

Kenapa banyak proyek TI gagal, idle, atau pengunaannya di bawah kapasitas? Heru Prasetyo, mantan Country Managing Director Accenture mengatakan, sebenarnya masalahnya lebih ke arah low utilization ketimbang idle. Masalah itu bisa terjadi — kalau dilihat dari sisi argumen Business Integration, yang menyebutkan bahwa TI adalah bagian dari program besar menata strategi, proses, organisasi/SDM dan sistem yang perlu dilakukan secara terpadu untuk dapat memperoleh manfaat — karena proyek jadi sangat besar, menyangkut hal non-TI yang cakupannya luas dan kompleks. Kata Heru, argumen ini sulit diterima perusahaan, karena cara berpikir mereka yang umumnya berangkat dari organisasi manajemen yang fungsional. Kalau toh rekomendasi itu diterima dan CEO mencoba menerapkan, pelaksanaannya sangat sulit. Sebab, masalahnya justru timbul dalam kultur manajemen yang harus berubah.

Ada juga dari pendekatan piece meal. Dalam hal ini, mungkin sistem TI-nya terpasang, tetapi perubahan tidak terjadi, karena prosesnya hanya berubah sedikit, organisasinya tidak menyesuaikan. “Ini akhirnya malah menganibal TI-nya, atau strateginya tidak terdukung, lalu meng-overrule sistemnya,” tutur Heru seraya mengingatkan bahwa proyek TI-nya sendiri bisa dinyatakan sukses.

Bagi dunia bisnis kita, masalah ini memang bukan isu baru. Namun, kami perlu mengangkat isu ini paling tidak karena dua hal. Pertama: waktu, tenaga, dan nilai investasi yang sudah ditanamkan perusahan-perusahaan di Indonesia untuk membangun sistem TI sangat besar, dan kami tak ingin semua upaya itu tak ada hasilnya, idle, atau low utilization.

Kedua, tak bisa dipungkiri, penerapan TI yang tepat di dunia bisnis akan membawa manfaat yang signifikan. Karena itu, jelas kami juga ingin, tembakan pertanyaan where is the payback tidak menyurutkan nyali para top manajemen di Indonesia kreatif mencari jalan keluar dari investasi yang telanjur dibenamkan, dan tetap berani mengambil risiko atas teknologi baru dan cara baru berbisnis untuk memacu produktivitas, pemangkasan biaya, memuaskan pelanggan — serta mencari hal baru untuk terus-menerus meningkatkan daya saing dan pengembangan usaha.

Ketiga, kami juga tak ingin, tren merosotnya nilai investasi di TI — di AS, misalnya, penjualan PC pada 2002 jatuh, ini tidak pernah terjadi sebelumnya — dan data ketidakberhasilan penerapan sistem TI dijadikan sebagai data statistik yang memicu perusahaan agar ekstra hati-hati untuk tidak membuat trauma dalam berinvestasi di TI.

Dalam Sajian Utama SWA ini, intinya kami ingin mengajak Anda untuk menata ulang investasi TI. Kami yakin, Anda bisa. Di AS, misalnya, Staples Inc. (dikupas mendalam di bagian lain Sajuta ini), telanjur membakar US$ 125 juta untuk membangun sistem e-business. Namun, dalam tempo tak sampai 6 bulan, di tengah ambruknya berbagai perusahaan dotcom, segalanya pun berubah. Bos Staples segera banting setir, tak mau kehilangan momentum. Mereka segera mencanangkan arah baru investasi yang sudah dilakukan, Yakni, memperoleh hasil optimal dari investasi yang ditanam, dengan mengubah penekanan strategi dari menggenjot produktivitas menjadi menekan biaya. Antara lain, mengalihkan penggunaan teknologi untuk mengembangkan sistem online help, yang memungkinkan manajer dan karyawan lain di jaringan toko memberi jawaban yang memuaskan konsumen. Hasilnya? Dari target 17% return dalam empat tahun, online help mampu menghasilkan return 60%, dan dapat menghemat US$ 10 juta.

Jadi, para top manajemen, jangan mencak-mencak atau panik dulu. Masih banyak jalan keluar yang bisa Anda tempuh.

Sumber: Swa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.